Blogger Tricks

Minggu, 13 Januari 2013

Aplikasi Nanoteknologi Dalam Kosmetik

Inovasi sangat dibutuhkan dalam pengembangan kualitas suatu produk, salah satunya yakni kosmetik. Salah satu riset yang paling progresif terutama di negara-negara maju saat ini yaitu dalam bidang nanoteknologi. Sejak tahun 2000, Indonesiapun tidak mau ketinggalan untuk melakukan riset dalam bidang ini. Sejak 10 tahun terakhir muncul berbagai aplikasi nanoteknologi dalam berbagai produk yang sudah banyak beredar di pasaran, diantaranya aplikasi nanoteknologi dalam kosmetik. Apa kelebihan produk kosmetik dengan teknologi nano? Dan apakah aman untuk kulit? Beberapa pertanyaan tersebut akan saya kupas dalam artikel ini. Yang basic keilmuannya bukan sains mungkin rada berat baca bahasan ini ^___^.

Apa kelebihan kosmetik dengan teknologi nano?
Tommy Julianto, Ph.D. dalam kuliah profesi apoteker mahasiswa farmasi UII menyampaikan bahwa kosmetik yang dirancang dengan nanoteknologi akan memiliki kemampuan penetrasi yang lebih baik ke dalam kulit, efikasi yang lebih baik, dan dapat tertinggal di lapisan kulit lebih lama. Lebih lanjut pak Tommy menjelaskan bahwa kosmetik dengan teknologi nanoemulsi akan bersifat non-sticky dan non-oily, sifat penetrasi yang baik, dapat menjaga kelembaban kulit lebih baik, dan dapat mendistribusikan zat aktif dengan baik pada kulit. Kosmetik dengan campuran lipid nanopartikel juga memiliki beberapa keuntungan, diantaranya meningkatkan stabilitas bahan aktif, memperpanjang bau (wangi) jika itu digunakan untuk pembuatan parfum, dan perlindungan kulit yang lebih baik terhadap sinar UV. Jadi, sederhananya, kosmetik seperti cream wajah atau bedak dengan teknologi nano dapat memberikan peluang besar pada kulit pemakainya menjadi lebih baik, karena ia bersifat lebih netral, lebih melembabkan, tidak menyebabkan kulit berminyak, dan karena distribusi zat aktif pada kulit lebih baik daripada kosmetik biasa maka jika ada permasalahan serius pada kulit seperti flek, jerawat, atau bekas luka, maka proses pemulihan/penyembuhannya lebih cepat karena zat aktif bekerja tepat pada sasaran kulit yang bermasalah.
Hal senada juga disampaikan oleh pakar nanoteknologi ITB, Prof. Dr. Heny Rachmawati. Beliau menjelaskan bahwa pemanfaatan teknologi nano dalam dunia farmasi dapat berperan dalam meningkatkan kualitas produksi dan keamanan (safety performance). Produk kosmetik yang menggunakan nanoteknologi akan lebih cepat diserap oleh kulit sehingga dari segi penggunaannya lebih efisien. Teknologi nano banyak dipilih dalam dunia farmasi karena sifat kelarutan, stabilitas, dan kamampuan penyerapannya yang lebih baik dibandingkan bahan lain. terkadang, senyawa tertentu dalam obat ataupun kosmetik mengalami kesulitan untuk larut dan melakukan penetrasi karena ukuran partikelnya terlalu besar, maka teknologi nano digunakan untuk mengatasi problem tersebut. Lebih lanjut bu Henny menuturkan bahwa BP POM sendiri saat ini sangat ketat dalam melakukan pengawasan terhadap produk yang menggunakan teknologi nano, apakah teknologi nano itu benar-benar diterapkan dalam produk atau hanya sekedar label. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan pemalsuan label nano oleh produsen.
dr Trisna Mudjiana MARS selaku kepala Ristra Institute juga menegaskan bahwa partikel nano sebagai penghantar bahan aktif akan mampu memaksimalkan penyerapan bahan aktif kosmetik pada kulit. Partikel nano juga bisa menyalurkan secara lebih merata bahan kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari sinar matahari dan energi negatif. dr Trisna yang menjamin bahwa produk kosmetik yang menggunakan teknologi nano tetap aman dan tidak memiliki efek samping. Beliau menjelaskan bahwa  partikel nano dalam kosmetik hanya berfungsi sebagai penghantar (carrier), setelah mulai terserap oleh kulit dia akan terlepas. Penggunaan nanoteknologi jauh lebih baik dibandingkan produk konvensional. Maka tak heran jika harga produk kosmetik dengan nanoteknologi jauh lebih tinggi dibandingkan produk-produk sejenis yang tidak menggunakan teknologi nano. Apalagi mengingat sebagian besar bahan baku untuk nano di Indonesia masih import dari luar negeri.
Dokter kulit Adnan Nasir, MD, PhD, FAAD, asisten profesor klinis di Departmen Dermatologi University of North Caroline di Chapel Hill, Amerika, menjelaskan bahwa nanomaterial dalam kosmetik berperan dalam anti penuaan. Rekayasa nanomaterial pada kosmetik dapat memberikan retinoid topikal dan antioksidan yang dapat memacu faktor pertumbuhan untuk peremajaan kulit di masa depan. Lebih lanjut Adnan Nasir memberikan contoh pada sediaan bahan penyusun tabir surya avobenzona yang menyebabkan wajah terlihat berminyak sesaat setelah digunakan. Namun sejak ditemukaan partikel nano titanium sebagai penyusun tabir surya menyebabkan perlindungan kulit terhadap sinar UV menjadi lebih baik tanpa meninggalkan bekas residu dan minyak.

Lalu apakah kosmetik dengan teknologi aman digunakan?
Hm... kalau menurut dr Trisna kosmetik berteknologinano itu relatif aman dan gak ada efek sampingnya. Adnan Nasir, meskipun tidak spesifik menjelaskan bahaya nanomaterial, namun dia menyampaikan bahwa di Amerika sendiri belum ada standar khusus untuk mengevaluasi keamanan produk tropikal yang mengandung partikel nano. Produsen-produsen kosmetik besar di Amerika masih menunggu keputusan dari Food and Drug Asministrator (FDA) mengenai keamanan produk teknologi nano.
Beberapa pengujian material nano dengan metode bioassay (uji terhadap mahluk hidup) yang dilakukan oleh David B. Warheit, Ph.D dari DuPont Haskel Laboratory Newark, Delaware, USA (2007) menyebutkan bahwa pengujian inhalasi pada paru-paru bioassay (debu nanomaterial) dan uji tokisistas akut oral (paparan yang termakan/terminum) menunjukkan hasil tokisistas yang sangat rendah, uji iritasi pada kulit tidak menunjukkan adanya iritasi, genoksisitas tes (kemungkinan toksisitas genetis) hasilnya negatif, dan iritasi mata hanya sedikit terjadi konjungtiva (mata kemerahan). Dari hasil riset ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nanomaterial relatif aman digunakan pada suatu produk. Beberapa pengujian bioassay terhadap resiko buruk nanomaterial juga dilakukan oleh para peneliti di Eropa, namun sampai saat ini sebagian besar hasil risetnya menunjukkan hasil yang negatif, artinya belum terbukti adanya resiko buruk yang signifikan dari penggunaan nanomaterial terhadap makhluk hidup. Wallahu’alam.
  
Sumber tulisan:
David B. Warheit, Nano-Safety and Risks: Impact of Nanoparticles on Respiratory Health Effects –Toxicity is not always Dependent Solely upon Particle Size/Surface Area, DuPont Haskell Laboratory Newark, Delaware, USA, 2007.

0 komentar:

Poskan Komentar